Beberapa hari yang lalu saya memutuskan mengambil cuti berlibur ke jogja dan menghabiskan malam tahun baru di sana. Rencana bertemu kawan-kawan lama yang sebelumnya tertunda akhirnya terwujud juga. Di pc-nya andy (salah satu kawan lama saya) saya kembali menemukan artikel yang pernah saya simpan kurang lebih 4 tahun yang lalu, judul artikel tersebut “seni hidup”, penuh haru kembali mengingat masa-masa di kamehouse dulu bagaimana kami mencoba memahami hidup dan kehidupan, dalam “seni hidup” yang simple ini ternyata punya pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan spiritual saya hingga saat ini,dan semoga kalian juga
Seni Hidup
Setiap orang ingin damai dan harmonis, karena inilah yang kurang dalam kehidupan kita. Dari saat ke saat kita mengalami kegelisahan, kejengkelan, ketidak harmonisan, penderitaan. Saat seorang gelisah, ia juga menyebarkan penderitaan tersebut kepada orang lain kegelisahan merembes keluar dari orang yang menderita ke sekelilingnya. Sehingga setiap orang yang berhubungan dengannya ikut menjadi jengkel dan gelisah. Tentu ini bukan cara hidup yang baik.
Seorang harus hidup damai dengan dirinya sendiri dan juga dengan yang lain. Bagaimanapun manusia adalah makluk sosial, ia harus hidup dan berhubungan dengan masyarakat. Bagaimana kita bisa hidup damai, bisa tetap harmonis dengan diri sendiri dan juga masyarakat sekitarnya, sehingga yang lain bisa hidup damai dan harmonis ?
Seseorang gelisah. Untuk keluar dari kegelisahan, seorang harus mengetahui alasan dasarnya, sebab dari penderitaan. Bila ia menyelidiki masalah tersebut, akan jelas bahwa saat ia mulai membangkitkan kekotoran dalam batin, ia pasti menjadi gelisah. Batin yang tidak murni tidak bisa hadir bersamaan dengan kedamaian dan keharmonisan.
Bagaimana seorang membangkitkan kekotoran batin? Sekali lagi dengan menyelidiki. Menjadi jelas, saya menjadi tidak senang saat melihat seorang berkelakuan, atau sesuatu terjadi, tidak seperti yang saya inginkan yang saya harapkan tidak terjadi. Dan saya membuat ketegangan dalam diri saya. Sepanjang hidup hal yang tidak diharapkan selalu terjadi, hal yang diharapkan bisa terjadi bisa tidak. Proses atau reaksi mengikat simpul-simpul ‘Gordian-knots’ membuat seluruh struktur mental dan jasmani menjadi tegang, penuh kenegatifan, yang membuat hidup menderita.
Satu cara untuk menyelesaikan masalah adalah mengatur hal yang tidak diharapkan tidak terjadi dan semuanya terjadi seperti apa yang saya inginkan. Maka saya harus mengembangkan kesaktian atau orang lain yang punya kesaktian yang bisa membantu saya setiap saat. Tapi ini tidak mungkin. Tidak ada seorangpun didunia ini yang keinginannya bisa selalu terpenuhi. Jadi timbul pertanyaan bagaimana saya tidak bereaksi buta terhadap hal-hal yang tidak saya sukai? Bagaimana tidak membuat ketegangan? Bagaimana menjaga tetap damai dan harmoni?
Di India, juga negara lain, para bijaksana telah mempelajari masalah ini, masalah penderitaan manusia dan menemukan solusinya: Bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dan seorang mulai bereaksi dengan membangkitkan kemarahan, takut atau kenegatifan apa saja, secepatnya ia harus mengalihkan perhatian-nya ke hal lain. Misalnya, berdiri, mengambil segelas air, mulai minum. Kemarahannya tidak akan diperbanyak dan ia akan keluar dari kemarahan. Atau mulai menghitung: satu, dua, tiga, empat. Atau mengulang sebuah kata, ayat suci, kalimat atau mantra, mungkin nama tuhan/dewa dewi yang dipercaya pikiran dialihkan dan anda keluar dari kenegatifan dalam batas tertentu.
Solusi ini membantu. Telah berhasil, akan berhasil. Dengan cara ini batin merasa bebas dari kegelisahan. Tapi sebenarnya solusi ini hanya bekerja pada lapisan sadar. Dengan mengalihkan perhatian ia menekan kenegatifan jauh kedalam bawah-sadar dan pada lapisan ini ia melanjutkan membangkitkan dan menggandakan kekotoran yang sama. Pada permukaan terdapat lapisan ketenangan dan harmonis, tapi pada kedalaman batin terdapat gunung berapi yang tertidur yang cepat atau lambat akan meletus dengan hebat.
Sebagian pencari kebenaran batin yang lain melanjutkan pencariannya dengan mengalami realita dari batin-materi dalam dirinya. Mereka mendapatkan bahwa mengalihkan perhatian hanyalah menghindar dari masalah. Menghindar bukanlah solusi: orang harus menghadapinya. Saat kekotoran timbul dalam batin, amati saja, hadapi. Kekotoran mental akan segera berkurang secepatnya seorang mengamatinya. Dengan perlahan kekotoran akan layu dan tercabut.
Ini solusi yang baik yang menghindari kebebasan bereaksi atau penekanan yang ekstrim. Menekan kekotoran dalam bawah-sadar tidak akan mencabutnya membiarkannya menjelma dalam bentuk tindakan fisik atau vokal hanya akan menimbulkan masalah lebih banyak. Tapi bila seorang hanya mengamati, kekotoran akan berlalu dan kenegatifan tercabut. Ia bebas dari kekotoran batin.
Ini kedengaran bagus, tapi apakah ini benar-benar praktis? Untuk rata-rata orang apakah mudah menghadapi kekotoran batin? Saat kemarahan timbul, begitu cepat ia menguasai kita sehingga tidak sempat mengenalinya. Dikuasai oleh kemarahan, kita bertindak secara jasmani atau ucapan yang merugikan kita dan orang lain. Kemudian saat amarah telah berlalu, kita mulai menyesal, minta ampun dari orang ini dan itu atau dari Tuhan: “Oh, saya telah membuat kesalahan, mohon ampuni saya !” Tapi saat berikutnya, kita berada dalam situasi yang sama, sekali lagi kita bereaksi dengan cara yang sama. Semua penyesalan sama sekali tidak menolong.
Kesulitannya adalah saya tidak menyadari saat kekotoran timbul. Itu dimulai dari jauh didalam batin bawah-sadar dan saat mencapai pikiran sadar, ia telah mendapatkan kekuatan yang begitu besar yang bisa menguasai saya dan tidak dapat di amati.
Jadi saya harus punya sekretaris pribadi sehingga saat kemarahan timbul, dia akan berkata ‘Lihat Tuan, kemarahan timbul !’.Karena saya tidak tahu kapan amarah timbul,saya harus punya tiga sekretaris untuk berjaga bergantian selama 24-jam !. Umpama saya mampu, saat amarah timbul dan sekretaris mengatakan: ‘Tuan lihat, kemarahan timbul ‘,hal pertama yang akan saya lakukan adalah menamparnya dan memakinya: ‘Bodoh kamu! Apakah kamu dibayar untuk mengajari aku ?’ Saya sudah dikuasai oleh kemarahan, tidak ada nasihat yang baik yang bisa membantu.
Meskipun umpama kebijaksanaan menang dan saya tidak menamparnya, saya berkata :’Terima kasih banyak’ . Sekarang saya harus duduk dan mengamati kemarahanku. Apakah itu mungkin? Secepatnya mata saya pejamkan dan mengamati kemarahan, segera objek kemarahan masuk kepikiran – orang atau kejadian yang membuatku marah-. Jadi saya tidak mengamati kemarahan itu sendiri saya hanya mengamati rangsangan luar dari emosi. Ini hanya akan menggandakan kemarahan. Ini bukan solusi. Adalah sangat sulit untuk mengamati kenegatifan serta emosi yang abstrak, terpisah dari objek luar yang menyebabkannya .
Tapi orang yang telah mencapai kebenaran akhir menemukan solusi yang nyata. Ia mendapatkan saat ada kekotoran timbul didalam batin, secara bersamaan dua hal terjadi pada tingkat fisik. Satu adalah nafas kehilangan irama yang normal. Kita mulai bernafas cepat saat kenegatifan masuk dalam batin. Ini mudah diamati. Pada tingkat yang lebih halus, semacam reaksi biokimia terjadi didalam tubuh semacam sensasi. Setiap kekotoran akan membangkitkan satu dan lain sensasi pada satu bagian tubuh atau lainnya.
Ini adalah solusi yang praktis. Orang awam tidak bisa mengamati kekotoran batin, katakutan, kemarahan atau emosi yang abstrak. Tapi dengan latihan dan praktek yang tepat, adalah mudah mengamati pernafasan dan sensasi tubuh keduanya langsung berhubungan dengan kekotoran batin.
Pernafasan dan sensasi akan membantu dalam dua hal. Pertama sebagai sekretaris pribadi. Secepatnya ada kekotoran timbul dalam batin, nafas akan berubah tidak normal. Ia akan teriak ‘Lihat ada yang salah ‘.Saya mulai mengamati nafas dan sensasi dan saya segera mendapatkan kekotoran berlalu.
Fenomena materi-batin ini seperti mata uang dengan dua sisi. Pada satu sisi adalah apapun pikiran atau emosi yang timbul didalam batin. Sisi lainnya adalah nafas dan sensasi dalam tubuh. Setiap pikiran atau emosi, setiap kekotoran mental mewujudkan diri dalam nafas dan sensasi pada saat itu. Jadi dengan mengamati nafas atau sensasi, saya sebetulnya mengamati kekotoran batin. Sebaliknya dari menghindari masalah, saya menghadapi kenyataan sebagaimana adanya. Kemudian saya mendapatkan bahwa kekotoran kehilangan kekuatannya .Saya tidak lagi bisa dikuasai seperti dulu. Bila saya bertahan, kekotoran akhirnya lenyap dan saya tetap damai dan bahagia.
Dengan cara ini, teknik mengamati diri sendiri memberi kita kenyataan dalam dua aspek yaitu dalam dan luar. Sebelumnya seorang selalu melihat dengan mata terbuka lebar, melewatkan kebenaran didalam. Saya selalu melihat keluar untuk sebab dari ketidak bahagianku saya selalu menyalahkan dan mencoba merubah realitas diluar tidak mau tahu dengan realita didalam. Saya tidak mengerti bahwa sebab dari penderitaan berada didalam, didalam reaksi buta terhadap sensasi yang menyenangkan dan tidak menyenangkan.
Sekarang dengan berlatih, saya bisa melihat sisi lain dari mata uang. Saya bisa menyadari nafas dan juga apa yang terjadi didalam siri saya. Apakah itu nafas atau sensasi, saya belajar hanya mengamati tanpa kehilangan keseimbangan dari batin. Saya berhenti bereaksi, berhenti memperbanyak penderitaan. Saya biarkan kekotoran mewujudkan diri dan berlalu.
Semakin banyak seorang berlatih teknik ini, semakin cepat ia keluar dari kenegatifan. Secara berangsur batin keluar dari kekotoran menjadi murni. Batin yang murni selalu penuh dengan cinta-kasih yang tanpa pamrih untuk semuanya penuh kasih sayang untuk penderitaan orang lain penuh kegembiraan atas sukses dan kebahagiaan yang lain penuh keseimbangan dalam menghadapi segala situasi.
Saat seorang mencapai tahap ini, seluruh pola kehidupannya mulai berubah. Tak mungkin lagi ia melakukan tindakan fisik atau vokal yang mengganggu kedamaian serta kebahagiaan orang lain. Sebaliknya batin yang seimbang tidak saja membuatnya damai, tapi juga membantu orang lain menjadi damai. Kedamaian serta keharmonisan yang terpancar dari orang tersebut akan mempengaruhi suasana dan orang disekelilingnya
Dengan belajar tetap seimbang dalam menghadapi semuanya yang dialami dalam tubuhnya, ia tidak terpengaruh lagi terhadap semuanya yang ia jumpai dalam situasi diluar. Bagaimanapun ini bukanlah malarikan diri atau tak peduli terhadap masalah duniawi. Seorang meditator Vipassana menjadi lebih perasa terhadap penderitaan orang lain, dan berusaha sebisanya untuk meringankan penderitaan – tidak dengan kegelisahan tapi dengan batin yang penuh cinta kasih, kasih sayang dan seimbang. Ia belajar pengabaian suci bagaimana terlibat penuh dalam membantu orang lain dan menjaga batinnya tetap seimbang. Dengan cara ini ia tetap damai dan bahagia sewaktu bekerja untuk kedamaian dan kebahagiaan orang lain.
Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha: suatu Seni Hidup. Beliau tidak pernah membentuk atau mengajarkan suatu agama atau aliran. Beliau tidak pernah memerintahkan pengikutnya melakukan tatacara atau upacara formalitas kosong atau buta. Sebaliknya beliau hanya mengajarkan mengamati alam sebagaimana adanya dengan mengamati realita di dalam tubuh. Karena ketidaktahuan, seorang selalu bereaksi yang membahayakan dirinya dan juga orang lain. Tapi saat kebijaksanaan timbul kebijaksanaan dari mengamati realita sebagai mana adanya ia keluar dari kebiasaan bereaksi ini. Saat seorang berhenti bereaksi secara buta, ia mampu bertindak benar – tindakan yang keluar dari batin yang seimbang, batin yang melihat dan mengerti kebenaran. Tindakan demikian hanya bisa positif, kreatif, membantu dirinya dan juga orang lain.
Apa yang perlu sekarang adalah mengenal diri sendiri – demikian nasihat para bijaksana. Seorang harus mengenal diri sendiri tidak hanya pada tingkat intelek, pikiran dan teori, bukan pada tingkat emosi ataupun kebaktian, menerima secara buta apa yang didengar atau dibaca. Pengetahuan yang demikian tidak cukup. Seorang harus mengenal realita pada tingkat kenyataan. Seorang harus mengalami langsung realita dari fenomena materi-batin ini. Hanya ini yang akan membantu kita keluar dari penderitaan.
Pengalaman langsung atas realita dalam dirinya, teknik mengamati diri sendiri inilah yang disebut ‘Meditasi Vipassana’. Dalam bahasa India pada masa Sang Buddha , passana berarti melihat dengan mata terbuka yang seperti biasa, vipassana adalah mengamati sesuatu sebagai mana adanya, tidak sebagai apa yang terlihat. Kebenaran yang terlihat harus ditembus sampai seorang mencapai kebenaran akhir dari seluruh struktur materi-batin. Saat seorang mengalami kebenaran ini, ia akan berhenti bereaksi secara buta, menghentikan pembuatan kekotoran – dan secara alami, kekotoran yang lama akan berangsur tercabut. Ia keluar dari semua penderitaan dan merasakan kebahagiaan.
Ada tiga tahapan dalam Meditasi Vipassana. Pertama tidak melakukan tindakan fisik atau ucapan yang mengganggu kedamaian serta keharmonisan orang lain. Seseorang tidak bisa membebaskan kekotoran batinnya bila ia terus melakukan perbuatan yang hanya memperbanyak kekotoran. Jadi aturan moral ini adalah penting sebagai tahap awal dari latihan. Kemudian seorang berjanji tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berhubungan sex buruk, tidak berbohong, tidak mabuk. Dengan mematuhi aturan tersebut diatas, seorang bisa menenangkan batinnya untuk melakukan tugas-tugas selanjutnya.
Tahap berikutnya adalah mengembangkan penguasaan atas pikiran yang liar dengan melatih untuk tetap pada satu objek: nafas seseorang mengarahkan perhatian pada nafas selama mungkin. Ini bukanlah latihan pernafasan nafas: nafas tidak diatur, sebaliknya nafas yang alami diamati sebagaimana adanya sewaktu nafas masuk dan keluar. Dengan cara ini pikiran ditenangkan sehingga tidak dikuasai oleh kenegatifan yang kuat. Pada waktu yang sama, pikiran dipusatkan, membuatnya menjadi tajam dan menembus, berguna untuk usaha pencerahan.
Dua tahapan pertama, kehidupan yang bermoral dan penguasaan pikiran, adalah sangat penting dan bermanfaat. Tapi itu akan membawa pada penekanan diri, kecuali mengambil tahap ketiga – memurnikan kekotoran pikiran dengan mengembangkan pencerahan kedalam diri seorang. Ini adalah vipassana: mengalami realita diri sendiri melalui pengamatan yang tenang dan sistimatis dari fenomena materi-batin yang selalu berubah yang terwujud sebagai sensasi yang timbul dalam tubuh. Ini adalah puncak dari ajaran Sang Buddha: pemurnian diri melalui pengamatan diri.
Ini bisa dilakukan oleh semua orang. Setiap orang mengalami penderitaan, itu adalah penyakit universal yang memerlukan pengobatan universal. Bukan sesuatu sector. Bila seorang menderita karena kemarahan, itu bukan kemarahan milik Buddhis, Hindu, Islam atau Kristen. Kemarahan adalah kemarahan universal. Obat-nya pun harus universal
Vipassana adalah obatnya. Tak akan ada yang keberatan dengan aturan kehidupan yang menghormati kedamaian dan keharmonisan orang lain. Tak ada yang keberatan dengan pengembangan control terhadap pikiran, mengembangkan pencerahan kedalam diri sendiri, yang kemungkinan untuk membebaskan pikiran dari kenegatifan.
Vipassana adalah jalan universal.
Mengamati realita sebagai mana adanya melalui pengamatan kebenaran dalam tubuh ini adalah mengenal diri sendiri pada tingkat kenyataan dengan mengalami secara langsung. Dengan berlatih seorang keluar dari penderitaan. Dari kebenaran yang kasar, diluar dan kasat mata, menembus sampai kebenaran akhir dari materi-batin, dibalik ruang dan waktu, bidang yang terkondisi dari kenisbian: kebenaran dr pembebasan total atas semua kekotoran, semua ketidak murnian, semua penderitaan. Nama apapun yang diberikan pada kebenaran ini tidak berhubungan. Ini adalah tujuan akhir dari semua orang.
Semoga semua mengalami kebenaran akhir ini. Semoga semua orang keluar dari kekotorannya, penderitaannya. Semoga mereka menikmati kebahagian sejati, kedamaian sejati, keharmonisan sejati.
SEMOGA SEMUA MAHLUK BERBAHAGIA
flo berkata,
Januari 20, 2009 pada 4:02 am
“Tak mungkin lagi ia melakukan tindakan fisik atau vokal yang mengganggu kedamaian serta kebahagiaan orang lain.”
How about u ??
nachiketas berkata,
Januari 20, 2009 pada 4:20 am
pertanyaannya kurang tepat, sebab jika saya jawab hanya akan melahirkan ‘ego’ baru dalam ‘saya’, seyogyanya pertanyaan tersebut ditujukan pada diri masing-masing … peace
flo berkata,
Januari 20, 2009 pada 9:21 am
Latar belakang pertanyaan saya adalah karena saya menganggap bahwa saya seorang murid, dan anda seorang guru.Tentu saja anda seorang guru bagi saya ,dengan tulisan-tulisan dan hasil refleksi anda yang anda share di blog ini.Tetapi apa artinya guru yang tidak mewujudkan apa yang dia ajarkan…hehehe , krn itu saya me”nelorkan” pertanyaan itu (peace bro)
nachiketas berkata,
Januari 20, 2009 pada 11:07 am
wow, analogi anda tentang ‘guru’ sungguh ‘berat’
,jika saya adalah ‘guru’ maka akan saya perintahkan ‘murid’ saya untuk merefleksikan semua informasi yang ada ke dalam diri. ‘kesadaran’ dalam dirilah ‘guru’ yang sejati, yang diwujudkan dari refleksi dan kontemplasi ke dalam diri. saya tidak mengajarkan. saya hanya berbagi informasi, dan saya tidak mengharapkan apalagi menuntut orang lain mengikuti apa yang saya lakukan
. dan seperti yang saya bilang sebelumnya, silahkan di refleksikan ke dalam diri masing-masing. peace..